A. Mengenal Sayid Quthb
Sayid Qutb adalah salah seorang tokoh pemikir islam yang sangat berpengaruh. Sayyid Qutb dilahirkan di provinsi Asyut, selatan Mesir pada tahun 1906. Pendidikannya sampai usia 27 tahun cukup keras. Orang tuanya sebagai ulama terkenal pada waktu itu mendidik dengan keras. Sayyid Qutb bersekolah di Masdrasah Ibtidaiyah sampai tahun 1918, dan pada umur 10 tahun sudah hapal Alquran. Setelah itu, Sayyid Qutb karena ingin menjadi guru melanjutkan pendidikannya di sekolah guru yang diselesaikannya pada tahun 1928. Kemudian belajar kembali di Darul Ulum, sebuah universitas model barat (yang hasan albana juga sekolah disana), dan selesai pada tahun 1933. Setelah itu Sayyid Qutb kemudian menjadi guru yang berada dibawah naungan menteri pendidikan Mesir.
Kementerian pendidikan Mesir mengirimnya ke Amerika Serikat untuk melakukan penelitian tentang metode pengajaran di Barat. Di Amerika dia menghabiskan waktu selama 2 tahun dari 1948 sampai 1950 sampai ia berhasil meraih gelar MA dari University of Northern Colorado. Pengalaman di Amerika sangat membekas, sampai dia menulis buku yang berjudul “Amerika yang Pernah Aku Lihat”. Kemarahan dan perasaan Islam sebagai Agama yang bisa menyelesaikan segala persoalan menariknya untuk bergabung dalam gerakan Ikhwanul Muslimin pada tahun 1951, di usianya yang ke-45.
Inilah saat ia merasa dirinya baru dilahirkan, setelah 25 tahun umurnya dihabiskan dengan al-Aqaad, sebuah kelompok seni dan syair. Qutb merasakan ketidakbenaran dalam langkah yang dia ambil. Akhirnya sekitar tahun 1945, setelah Sayyid Qutb menyaksikan Hasan al-Bana, pendiri al-Ikhwan dibunuh, Qutb merasa simpati dan kemudian mengkaji sosok Hasan al-Bana.
Pada waktu itu, dia merasa tidak mempunyai nilai dan harga apa-apa dibandingkan Hassan Albana. Albana, pendiri ikhwanul muslimin, dihukum mati karena bertentangan dengan pemerintah sekuler pada waktu itu dalam membangun bangsa. IM sangat menentang dominasi barat di Mesir, dan menurut mereka, cara menyelesaikan persoalan adalah dengan kembali kepada Islam, termasuk dalam mengatur pemerintahan. Hanya saja, Naserlah yang berhasil menumbangkan pemerintahan monarky tersebut dan menggantinya dengan system republic, dalam upaya mewujudkan Pan-Arabism pada tahun 1952. Beberapa orang sebenarnya mendukung sayid qutb untuk bergabung dengan naser supaya dapat merubah system pendidikan Mesir, hanya saja Naser terlanjur mengelompokkan Qutb ke dalam kelompok Islamis. Sayyid Qutb kemudian dipenjara selama sepuluh tahun dari 1954, masa ketika ia berhasil menyelesaikan tafsir fi dzilalil quran.
Tafsir ini sangat terpengaruh dengan pengalamannya di IM. Banyak pemikiran Sayyid Qutb terutama tentang cara berhukum terhadap hukum Allah yang dibahas. Kekuasaan semata-mata hanya milik Allah, bukan pemerintahan yang dholim. Mereka justru perlu diperangi. Hal inilah yang menyebabkan qutb pada tahun 1965 dihukum gantung oleh Naser.
Dalam al-Ikhwan, sekalipun tidak pernah menjabat sebagai pemimpin, Qutb telah dinobatkan sebagai pemikir nomor dua setelah Hasan al-Bana. Pemikiran Sayyid Qutb banyak berpengaruh terhadap gerakan Islam diberbagai negara, seperti di Syiria, Libanon, Tunisia dan Sudan, tidak hanya dikalangan sunni tetapi juga di kalangan Syiah.
B. Pemikiran politik Sayyid Quthb
Sayyid Quthub, barangkali, saat ini merupakan seorang ilmuwan Muslim yang banyak mendapat sorotan. Namanya, banyak dikaitkan dengan kebangkitan radikalisme di dunia Islam. Tak jarang yang kemudian bersikap alergi terhadap pemikirannya. Tapi, secara ilmiah, sikap apriori semacam itu tentu saja keliru. Banyak karya besar telah dilahirkannya. Salah satunya, Tafsir Fi Dzilalil Quran. Diantara pemikiran menarik dari Sayyid Quthub adalah teori tentang “keadilan sosial”.
Akan tetapi dalam makalah ini kami hanya menjelaskan beberapa dari pemikiran yang pernah dilahirkan oleh sayyid Quthb. Kami lebih konsen pada pemikirannya dalam bidang pemerintahan dan politik. Fokus pembahasan kami yaitu pada konsep pemerintahan supra nasional, persamaan hak antara para pemeluk berbagai agama, tiga asas politik pemerintahan islam, bentuk keadilan dalam islam, dan terakhir politik pemerintahan dalam islam.
1. Konsep Pemerintahan Supra Nasional
Sayyid quthb memiliki suatu konsep tentang pemerintahan yang ideal dalam islam. Menurutnya, pemerintahan yang paling bagus adalah pemerintahan supra nasional. Dalam sistem ini, wilayah negara meliputi seluruh dunia islam dengan sentralisasi kekuasaan pada pemerintah pusat. Yang dikelola atas prinsip persamaan penuh antara semua umat islam yang terdapat diseluruh penjuru dunia islam, tanpa adanya fanatisme ras dan kedaerahan. Tentang pemanfaatan potensi pendapatan yang dimiliki oleh daerah, diutamakan dipakai untuk kepentingan daerah itu sendiri, dan apabila masih ada lebihnya, maka akan disetorkan ke bait al-mal atau perbendaharaan pemerintah pusat sebagai milik bersama kaum muslimin yang akan dipergunakan untuk kepentingan bersama saat dibutuhkan.
2. Persamaan hak antara para pemeluk berbagai agama
Dalam hal ini negara islam akan menjamin secara penuh hak-hak orang dzimmi dan kaum musrikin yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin, hak-hak mereka akan betul-betul ditegakkan atas dasar kemanusiaan, tanpa membedakan pemeluk agama yang satu dengan pemeuk agama yang lain apabila sampai pada persoalan kebutuhan manusia pada umumnya. Dan negara iskam juga memberikan jaminan persamaan yang mutlak dan sempurna kepada masyarakat, dan bertujuan merealisasi kesatuan kemanusiaan dalam bidang peribadatan dan sistem kemasyarakatan .
3. Tiga Asas Politik Pemerintahan Islam
Politik pemerintahan dalam islam dibangun atas asas :
a. Keadilan Penguasa
Keadilan yang mutlak harus diterapkan dalam pemerintahan islam. Seorang penguasa harus berlaku adil, landasan hukumnya adalah
“sesungguhnya Allah memerintah kamu untuk berlaku adil...” (Q.S. 16:90)
“sesungguhnya orang yang paling dicintai dan dekat kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat nanti adalah pemimpin yang adil,....” (Q.S. 5:8)
Seorang penguasa dalam mengeluarkan keputusan dan kebijakannya tidak terpengaruh oleh kepentingan atau keuntungan bagi kalangan tertentu. Suatu keadilan tidak terpengaruh oleh sebab apapun juga. Setiap individu berhak menikmati keadilan yang sama, tidak ada diskriminasi antara menreka yang muncul karena nasab dan kekayaan, karena uang dan pangkat sebagaimana yang ada pada umat di luar Islam, walaupun antara kaum muslimin dan non islam itu terdapat permusuhan dan kebencian. Sungguh ini merupakan nilai keadilan yang belum pernah dicapai oleh Hukum Internasional manapun dan juga oleh hukum local manapun sampai detik ini.
Yang paling penting untuk diketahui tentang keadilan Islam ini adalah bahwa ia bukan semata-mata sekedar teori- teori mati, tetapi telah terbukti dalam kenyataan hidup sehari-hari.
b. Ketaatan Rakyat
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasulnya, dan orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kamu...” (Q.S. 4:59).
Ketaatan kepada pemegang kekuasaan (pemerintah) merupakan kelanjutan dari ketaatan terhadap Allah swt dan Rasul-Nya, sebab menaati waliul amri dalam islam bukanlah karena jabatan mereka, melainkan karena mereka melaksanakan syari’at Allah dan Rosu-Nya. Jadi, jika seorang penguasa menjalankan pemerintahan tidak sesuai dengan tuntunan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip islam, maka hilanglah kewajiban kita untuk tunduk dan taat pada penguasa tersebut. Seperti sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
”setiap muslim, suka atau tidak, wajib patuh dan taat pada ketentuan yang telah ditetapkan (oleh penguasa), kecuali jika ia diperintahkan untuk melakukan kemaksiatan.”
Dengan demikian keteaatan rakyat kepada penguasa hanyalah terbats dan terikat pada pelaksanaan syariat islam semata, tanpa persyaratan lain yang tidak adil dalam pemerintahan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
c. Musyawarah antara Penguasa dan Rakyat
Musyawarah merupakan salah satu prinsip pemerintahan Islam, sedangkan teknis pelaksanaanya secara khusus tidak ditertapkan. Dengan demikian bentuknya tergantung pada kebutuhan saja. Musyawarah juga merupakan sistem dan lembaga tertinggi yang telah ditetapkan oleh islam. Tujuannya adalah agar penguasa mengetahui apakah keputusan dan kebijakan yang telah diambilnya benar-benar sesuai dengan kondisi dan dapat diterima oleh masyarakat secara keseluruhan. Sehingga bukan hanya bagi kepetingan tertentu saja. Dalilnya adalah qur’an surat As-Syuura ayat 38:
”...dan urusan mereka diputuskan dengan jalan musyawarah antar mereka...’
Namun, dalam konsep ini, masih belum dijelaskan oleh Quthb secara spesifik tentang ”rakyat”. Rakyat yang manakah yang akan ikut berpartisipasi dalam musyawarah tersebut? Apakah seluruh masyarakat?atau golonga tertentu saja yang memilki kapasitas dan kemampuan yang dipilih oleh pemerintah sesuai dengan bidang-bidang mereka masing-masing. Atau melalui wakil-wakil tertentu yang dipilih oleh rakyat seperti yang ada dalam sistem demokrasi yang menjadi acuan banyak negara.
4. Bentuk Keadilan Sosial Dalam Islam
Dalam bukunya Al-‘Adalah al-Ijtima‘iyyah fi al-Islam (Keadilan Sosial dalam Islam) Qutb tidak menafsirkan Islam sebagai sistem moralitas yang usang. Tetapi, ia adalah kekuatan sosial dan politik konkret di seluruh dunia Muslim. Di sini Qutb melawan Ali Abd al-Raziq dan Taha Hussein yang menyatakan bahwa Islam dan politik itu tidak bersesuaian. Qutb menyatakan tidak adanya alasan untuk memisahkan Islam dengan perwujudan-perwujudan yang berbeda dari masyarakat dan politik.
Sangat susah bagi kita untuk memahami apa itu keadailan sosial sebelum kita kita bisa memahami konsep ”keseluruhan” islam tentang alam, kehidupan, dan manusia. Islam tidak memisah-misahkan segala elemen yang ada dalam dunia ini, dan tidak juga menghadapi maslah-masalah yang terpisah satu sama lainnya. Semua persoalan yang saling terkait satu sama lainnya. Hal ini dikarenakan islam memiliki konse yang menyeluruh tentang alam, kehidupan, dan manusia.
Islam memilki bentuk hubungan antara Tuhan dengan Makhluk-nya, hubungan antar sesama makhluk (baik antara manusia dengan alam, maupun antara manusia dengan manusia lainnya), antara individu dengan masyarakat, antara individu dengan negara, dan bahkan antara generasi yang satu dengan generasi yang lainnya. Bentuk hubungan inilah yang selanjutnya disebut oleh Quthb sebagai Filsafat atau Konsep Islam.
Islam adalah agama kesatuan antara ibadah dan muamalah, antara akidah dan perbuatan, material dan spritual, nilai-nilai ekonomi dan nilai-nilai moral, dunia dan akhirat, serta bumi dan langit. Dari kesatuan besar ini, lahirlah ketentuan dan ketetapan, serta arah dan batasan-batasannya.
Dalam pandangan islam, kehidupan adalah saling tolond menolong dan salin membantu, tidak ada pertentangan dan permusuhan, semuanya itu merupakan realisasi kepentingan individu dan masyarakat. Segala sesuatu yang tidak haram, berarti boleh dilakukan. OLeh karena itulah, menurut islam keadalian tidak harus sama tanpa ada perbedaan. Keadilan yang mutlak pasti membutuhkan perbedaan, tetapi memberi kesempatan yang merata dan luas kepada mayarakat untuk menjalani kehidupan. Tetapi tidak keluar dari prinsip-prinsip keagamaan (islam).
Islam tidak menginginkan semua orang memilki jumlah kekayaan yang sama dalam hal ekonomi. Karena hal itu sangat tidak mungkin terjadi. Tetapi islam tidak menghalakan segala kemewahan yang hanya mendorong manusia hanya tertuju pada khidupan materi (dunia), tunduk pada nafsu syahwatnya, dan menciptakan kelas-kelas yang berbeda dalam masyarakat.
Menurut Qutb, keadilan sosial dalam Islam mempunyai karakter khusus, yaitu kesatuan yang harmoni. Islam memandang manusia sebagai kesatuan harmoni dan sebagai bagian dari harmoni yang lebih luas dari alam raya di bawah arahan Penciptanya. Keadilan Islam menyeimbangkan kapasitas dan keterbatasan manusia, individu dan kelompok, masalah ekonomi dan spiritual dan variasi-variasi dalam kemampuan individu. Ia berpihak pada kesamaan kesempatan dan mendorong kompetisi. Ia menjamin kehidupan minimum bagi setiap orang dan menentang kemewahan, tetapi tidak mengharapkan kesamaan kekayaan.
5. Politik pemerintahan dalam islam.
Sayyid Qutb juga konsen terhadap kesengsaraan yang menimpa rakyat dengan penguasa yang dinilai lalim. Ia menuntut dan melakukan berbagai penentangan terutama melalui tulisannya dalam menciptakan suasana keadilan. Menurutnya pemerintah pada hakikatnya adalah pemegang amanat rakyat untuk menjalankan syariah. Pemimpin dipilih oleh rakyat yang paham Islam dengan cara voting. Meskipun seperti demokrasi Sayyid Qutb tidak setuju dengan demokrasi sepenuhnya. Demokrasi harus tertetap berada dibawah tuntunan syariat.
Dalam hal zakat misalnya, supaya terbangun keadilan yang sesungguhnya, maka pemerintah wajib memaksa rakyat untuk membayar zakat. Jika pemerintah tidak malakukan syariat seperti ini berarti pemerintah tersebut lalim.
Sistem politik islam dibangun atas dua konsep, yaitu konsep kesatuan manusia dalam jenis, watak, dan pertumbuhan; dan konsep bahwa islam adalah sistem universal yang abadi bagi masa depan kehidupan manusian.
Politik pemerinthan dalam islam dibangun diatas asas yang bersumber dari hati nurani, lebih dari sekedar dibangun diatas asas syariat. Politik pemerintahan islam dibangun atas asas bahwa Allah swt itu selalu hadir dalam setiap saat disisi para penguasa, dan rakyat mengawasi segala sesuatunya. Pemimpin dan kepemimpinan, kedua-duanya membutuhkan bimbingan Allah dalam semua segi pelaksanaannya dan takut kepada Allah merupakan jaminan terakhir bagi terealisasinya keadilan.
Namun, tidak boleh pula dipahami bahwa sistem sosial politik islam hanya dibangun atas asas yang bersumber dari hati nurani saja. Akan tetapi yang mesti kita pahami adalah bahwa dalam islam ada jaminan lain selain yang ditetapkan melalui syariat. Inilah yang membuatnya berbeda dengan sistem-sistem yang lain yang semata-mata didasarkan pada asas undang-undang semata.
6. Pujian dan Kritik terhadap Pemikiran Sayyid Quthb
Hamid Algar, dalam pengantarnya untuk buku Social Justice in Islam, menyatakan, bahwa Sayyid Qutb dapat dilihat sebagai orang yang pertama di dunia Islam yang mengartikulasikan masalah keadilan sosial pada zaman modern. Teori keadilan sosialnya begitu sentral dalam pemikirannya. Teori ini dipertahankannya sehingga akhir hayatnya. Barangkali karena topik inilah yang memberikan sambungan antara teologi dan realitas sosial, suatu sambungan yang menjadi inti dari pemikirannya, yaitu Islam sebagai kekuatan sosial dan politik yang konkret.
Menurut Shepard (1996), walaupun topik yang diambil itu agak sekular yaitu keadilan sosial, Qutb mengakhirinya dengan teosentrisme penuh dengan titik tekan pada pelaksanaan Syari’ah sebagai jembatan untuk merealisasikan keadilan sosial. Demikian itu karena, bagi Qutb, hanya Allah lah yang mengetahui cara merealisasikan keadilan sosial yang benar. Maka apa yang Allah gambarkan dalam al-Qur’an dan yang dilaksanakan oleh Nabi-Nya itulah yang perlu diikuti. Dan warisan itu adalah pelaksanaan Syari’ah.
Sumber:
Quthb, Sayyid. Keadilan Sosial Dalam Islam
Sjadzali, H. Munawir. Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran. Jakarta: penerbit Universitas Indonesia, 2003.
Ini ku gunakan sebagai wadah untuk mendokumentasikan semua tugas-tugas dan menuangkan semua keinginanku.....
Selasa, 29 Maret 2011
Review Film Blood Diamond
Cerita yang diangkat dalam film ini adalah tentang perdagangan berlian secara illegal. Perdagangan illegal ini dilakukan dengan memanfaaatkan keadaan yang sedang terjadi di Sierra Leone yaitu terjadinya perang antara pemerintah dengan pemberontak. Kalangan pemberontak yang disebut Fron Revolusi (Revolutioner United Front; RUF) melakukan penambangan berlian secara illegal dan kemudian menjualnya untuk digunakan sebagai dana pembelian senjata.
Konflik ini terjadi di Sierra Leone (sebuah negara di Afrika Barat) pada tahun 1999. Berlian merupakan salah satu sumber alam yang diseludupkan ke pasar bebas oleh RUF melalui Liberia. Film ini mendeskripsikan dengan baik konflik yang trjadi di Afrika. Bahkan anak kecil pun bisa dijadikan sebagai pembunuh yag sadis. Mereka menjelaskan bagaimana tingginya tingkat korupsi dan konspirasi yang tertata dengan baik. Perdagangan berlian dilakukan secara terorganisir dan rapi.
Pada awalnya, film ini menceritakan seorang ayah, nelayan yang bernama Solomon Vandy (Djimon Hounsou), ia memiliki anak yang bernama Dia Vandy (Caruso Kuypers). Dia memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Oleh karena itulah Solomon menyekolahkan anaknya. Namun, pada suatu hari ketika Solomon dan Dia sedang sedang berjalan-jalan, datanglah pasukan RUF yang melakukan penyerangan. Banyak dari penduduk Kono (desa tempat Solomon tinggal) yang terbunuh, tetapi ada sebagian yang disandera sebagai pekerja di pertambangan berlian. Solomon termasuk salah satu diantara mereka yang tertangkap. Dan keluarganya berhasil kabur. Namun selanjutnya, anaknya (Dia) pun tertangkap dan dijadikan tentara anak oleh RUF.
Ketika sedang mencari berlian, Solomon menemukan sebuah berlian yang sangat besar. Kemudian ia sembunyikan di jari kakinya. Namun hal itu diketahui oleh RUF dan memaksanya untuk menyerahkan berlian tersebut. Ketika ia hendak menyerahkan berlian tersebut, datanglah pasukan pemerintah menyerang penambangan. Berlian tersebut kemudian dikubur oleh Solomon dan ia tertangkap. Di penjara ia bertemu dengan Danny Archer (Leonardo DiCaprio), seorang tentara bayaran dari Afrika Selatan. Archer tahu bahwa Solomon memiliki berlian. Oleh karena itu, setelah keluar dari penjara, Archer menawarkan Solomon untuk bekerja sama.
Archer memberi Solomon tawaran bahwa ia akan membantu Solomon untuk mencari keluarganya, asalkan Solomon mau memberikan berlian tersebut kepadanya. Setelah mereka berdua setuju, maka mereka berdua mencari berlian tersebut. Namun, sebelum mencari berlian tersebut, mereka berdua terlebih dahulu mencari keluarga Solomon. Untuk itulah, Archer meminta bantuan Maddy Bower (Jennifer Connelly) seorang wartwan majalah Vital Affairs dari New York, Amerika. Mereka bertiga mengunjungi kamp pengungsian dan menemukan istri dan anak Solomon. Namun anak sulungnya (Dia) tidak ada. Barulah kemudian mereka mulai mencari berlian.
Maddy, seorang wartawan amerika tersebut mau membantu Archer karena ia membutuhkan informasi tentang penyeludupan berlian. Sedangkan Archer mengetahui informasi yang banyak tentang penyeludupan tersebut. Di sini terlihat bahwa ketiga orang tersebut memiliki kepentingan yang berneda-beda. Solomon menginginkan keluarganya kembali, Archer berambisi untuk mendapatkan berlian agar ia bisa segera lari dari Afrika, sedangkan Maddy butuh informasi yang lengkap tentang aksi perdagangan berlian illegal yang melibatkan seorang pengusaha intan terkenal Van De Kaap. Namun, ketiganya tetap bisa bekerja sama dengan baik.
Mereka bertiga mengunjungi kamp militer pimpinan kolonel Coetzee. Kolonel pun kahirnya meminta Archer agar ikut bersama pasukan mereka menyerang pasukan RUF. Namun Archer tidak mau. Justru ia mencuri beberapa senjata yang ada di kamp tersebut dengan bantuan Maddy untuk mengalihkan perhatian penjaga. Setelah itu ia dan Solomon pergi mencari berlian tersebut ke daerah Kono berdua, sedangkan Maddy harus dievakuasi keluar dari wilayah konflik. Setelah sampai di dekat tempat tujuan, terjadi konflik antara keduanya. Archer ingin agar mereka tidak langsung ke kamp pemberontak, sedangkan Solomon ingin langsung ke sana dengan tujuan mencari anaknya.
Archer menjelaskan ke Maddy bagaimana cara mereka menyeludupkan berlian. Mereka dibantu oleh aparat pemerintah dengan melakukan penyuapan. Ia juga menjelaskan bagaimana Van De Kaap melakukan penimbunan berlian agar harganya tetap mahal. Sehingga mereka bisa mengontrol harga berlian. Ia juga memberikan bukti berupa selembar cek. Dengan bukti itulah kemudian Maddy menuliskan beritanya.
Akhirnya, mereka berhasil menyusup mendekati kamp RUF. Mereka menyusun rencana penyerangan. Archer menelepon kolonel Coetzee dan memberitahukan di mana posisi RUF. Kolonel menyatakan akan melakukan penyerangan besok dan Archer setuju. Namun, pada malamnya Solomon nekat masuk ke kamp RUF untuk mencari anaknya. Ia melihat anaknya sedang bermain judi dan ia sangat marah. Solomon memaksa anaknya untuk pulang. Tetapi Dia menolak dan terjadi keributan. Solomon ditangkap oleh RUF. Pada paginya, ia dipaksa oleh pimpinan RUF untuk memberitahukan di mana ia menguburkan berlian dengan mengancam akan membunuh anaknya jika ia tidak mau. Tidak lama kemudian kamp RUF diserang oleh pasukan kolonel Coetzee. Sehingga suasana menjadi kacau. Solomon akhirnya akhirnya mencari pimpinan RUF dan membunuhnya.
Setelah RUF berhasil ditaklukan, kolone Coetzee memaksa Archer agar meminta Solomon untuk memberitahukan tempat berlian. Mereka juga memanfaatkan Dia. Ketika sampai di bukit tempat berlian disembunyikan, Solomon menggali tanah mencari berliannya. Setelah berlian ditemukan, Archer menyerang kolonel dan membunuhnya. Tetapi kemudian Dia mengancam akan menembak Archer. Setelah dinasehati oleh Solomon, akhirnya Dia sadar dan mereka pun lari. Mereka lari ke ujung tebing dengan harapan akan dijemput oleh Nabil, temannya Archer. Namun Archer tidak mampu lagi meneruskan pelarian, karena ia tertembak oleh kapten ketika terjadi keributan saat mengambil berlian. Dan akhirnya ia memberikan berlian tersebut kepada Solomon. Ia menyuruh Solomon untuk pergi ke Conarky daerah Guinea dan bertemu dengan Maddy agar membantunya menjualkan berlian tersebut. Archer pun akhirnya meninggal karena luka tembak tersebut.
Setelah bertemu dengan Maddy, mereka pergi ke London. Solomon akhirnya menjual berliannya kepada Van De Kaap dan ia bertemu dengan keluarganya. Tidak lama setelah itu, dunia dikejutkan dengan berita yang dipublikasikan oleh Maddy. Banyak orang melakukan demonstrasi menanyakan kebenaran berita tersebut kepada Van De Kaap. Dan kahirnya Solomon diundang untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya yang terjadi di Benua Afrika. Dan akhirnya, penyeludupan berlian berhasil dihentikan.
Film ini menggambarkan secara kompleks permasalahan yang ada di Afrika. Bagaimana sebuah konflik internal di sebuah negara dimanfaatkan oleh orang lain untuk mengambil sumber daya yang ada di negara tersebut. Bagaimana pembunuhan yang dilakukan secara sadis. Dan bagaimana anak kecil menjadi pembunuh yang tidak kenal belas kasihan. Bagaimana kepentingan diri sendiri menjadi hal yang diutamakan. Bahakan teman sendiri pun bisa diperalat. Oleh karena itulah film ini diberi judul “Blood Diamond” dengan mengacu pada proses untuk mendapatkan berlian tersebut melalui pertumpahan darah.
Konflik ini terjadi di Sierra Leone (sebuah negara di Afrika Barat) pada tahun 1999. Berlian merupakan salah satu sumber alam yang diseludupkan ke pasar bebas oleh RUF melalui Liberia. Film ini mendeskripsikan dengan baik konflik yang trjadi di Afrika. Bahkan anak kecil pun bisa dijadikan sebagai pembunuh yag sadis. Mereka menjelaskan bagaimana tingginya tingkat korupsi dan konspirasi yang tertata dengan baik. Perdagangan berlian dilakukan secara terorganisir dan rapi.
Pada awalnya, film ini menceritakan seorang ayah, nelayan yang bernama Solomon Vandy (Djimon Hounsou), ia memiliki anak yang bernama Dia Vandy (Caruso Kuypers). Dia memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Oleh karena itulah Solomon menyekolahkan anaknya. Namun, pada suatu hari ketika Solomon dan Dia sedang sedang berjalan-jalan, datanglah pasukan RUF yang melakukan penyerangan. Banyak dari penduduk Kono (desa tempat Solomon tinggal) yang terbunuh, tetapi ada sebagian yang disandera sebagai pekerja di pertambangan berlian. Solomon termasuk salah satu diantara mereka yang tertangkap. Dan keluarganya berhasil kabur. Namun selanjutnya, anaknya (Dia) pun tertangkap dan dijadikan tentara anak oleh RUF.
Ketika sedang mencari berlian, Solomon menemukan sebuah berlian yang sangat besar. Kemudian ia sembunyikan di jari kakinya. Namun hal itu diketahui oleh RUF dan memaksanya untuk menyerahkan berlian tersebut. Ketika ia hendak menyerahkan berlian tersebut, datanglah pasukan pemerintah menyerang penambangan. Berlian tersebut kemudian dikubur oleh Solomon dan ia tertangkap. Di penjara ia bertemu dengan Danny Archer (Leonardo DiCaprio), seorang tentara bayaran dari Afrika Selatan. Archer tahu bahwa Solomon memiliki berlian. Oleh karena itu, setelah keluar dari penjara, Archer menawarkan Solomon untuk bekerja sama.
Archer memberi Solomon tawaran bahwa ia akan membantu Solomon untuk mencari keluarganya, asalkan Solomon mau memberikan berlian tersebut kepadanya. Setelah mereka berdua setuju, maka mereka berdua mencari berlian tersebut. Namun, sebelum mencari berlian tersebut, mereka berdua terlebih dahulu mencari keluarga Solomon. Untuk itulah, Archer meminta bantuan Maddy Bower (Jennifer Connelly) seorang wartwan majalah Vital Affairs dari New York, Amerika. Mereka bertiga mengunjungi kamp pengungsian dan menemukan istri dan anak Solomon. Namun anak sulungnya (Dia) tidak ada. Barulah kemudian mereka mulai mencari berlian.
Maddy, seorang wartawan amerika tersebut mau membantu Archer karena ia membutuhkan informasi tentang penyeludupan berlian. Sedangkan Archer mengetahui informasi yang banyak tentang penyeludupan tersebut. Di sini terlihat bahwa ketiga orang tersebut memiliki kepentingan yang berneda-beda. Solomon menginginkan keluarganya kembali, Archer berambisi untuk mendapatkan berlian agar ia bisa segera lari dari Afrika, sedangkan Maddy butuh informasi yang lengkap tentang aksi perdagangan berlian illegal yang melibatkan seorang pengusaha intan terkenal Van De Kaap. Namun, ketiganya tetap bisa bekerja sama dengan baik.
Mereka bertiga mengunjungi kamp militer pimpinan kolonel Coetzee. Kolonel pun kahirnya meminta Archer agar ikut bersama pasukan mereka menyerang pasukan RUF. Namun Archer tidak mau. Justru ia mencuri beberapa senjata yang ada di kamp tersebut dengan bantuan Maddy untuk mengalihkan perhatian penjaga. Setelah itu ia dan Solomon pergi mencari berlian tersebut ke daerah Kono berdua, sedangkan Maddy harus dievakuasi keluar dari wilayah konflik. Setelah sampai di dekat tempat tujuan, terjadi konflik antara keduanya. Archer ingin agar mereka tidak langsung ke kamp pemberontak, sedangkan Solomon ingin langsung ke sana dengan tujuan mencari anaknya.
Archer menjelaskan ke Maddy bagaimana cara mereka menyeludupkan berlian. Mereka dibantu oleh aparat pemerintah dengan melakukan penyuapan. Ia juga menjelaskan bagaimana Van De Kaap melakukan penimbunan berlian agar harganya tetap mahal. Sehingga mereka bisa mengontrol harga berlian. Ia juga memberikan bukti berupa selembar cek. Dengan bukti itulah kemudian Maddy menuliskan beritanya.
Akhirnya, mereka berhasil menyusup mendekati kamp RUF. Mereka menyusun rencana penyerangan. Archer menelepon kolonel Coetzee dan memberitahukan di mana posisi RUF. Kolonel menyatakan akan melakukan penyerangan besok dan Archer setuju. Namun, pada malamnya Solomon nekat masuk ke kamp RUF untuk mencari anaknya. Ia melihat anaknya sedang bermain judi dan ia sangat marah. Solomon memaksa anaknya untuk pulang. Tetapi Dia menolak dan terjadi keributan. Solomon ditangkap oleh RUF. Pada paginya, ia dipaksa oleh pimpinan RUF untuk memberitahukan di mana ia menguburkan berlian dengan mengancam akan membunuh anaknya jika ia tidak mau. Tidak lama kemudian kamp RUF diserang oleh pasukan kolonel Coetzee. Sehingga suasana menjadi kacau. Solomon akhirnya akhirnya mencari pimpinan RUF dan membunuhnya.
Setelah RUF berhasil ditaklukan, kolone Coetzee memaksa Archer agar meminta Solomon untuk memberitahukan tempat berlian. Mereka juga memanfaatkan Dia. Ketika sampai di bukit tempat berlian disembunyikan, Solomon menggali tanah mencari berliannya. Setelah berlian ditemukan, Archer menyerang kolonel dan membunuhnya. Tetapi kemudian Dia mengancam akan menembak Archer. Setelah dinasehati oleh Solomon, akhirnya Dia sadar dan mereka pun lari. Mereka lari ke ujung tebing dengan harapan akan dijemput oleh Nabil, temannya Archer. Namun Archer tidak mampu lagi meneruskan pelarian, karena ia tertembak oleh kapten ketika terjadi keributan saat mengambil berlian. Dan akhirnya ia memberikan berlian tersebut kepada Solomon. Ia menyuruh Solomon untuk pergi ke Conarky daerah Guinea dan bertemu dengan Maddy agar membantunya menjualkan berlian tersebut. Archer pun akhirnya meninggal karena luka tembak tersebut.
Setelah bertemu dengan Maddy, mereka pergi ke London. Solomon akhirnya menjual berliannya kepada Van De Kaap dan ia bertemu dengan keluarganya. Tidak lama setelah itu, dunia dikejutkan dengan berita yang dipublikasikan oleh Maddy. Banyak orang melakukan demonstrasi menanyakan kebenaran berita tersebut kepada Van De Kaap. Dan kahirnya Solomon diundang untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya yang terjadi di Benua Afrika. Dan akhirnya, penyeludupan berlian berhasil dihentikan.
Film ini menggambarkan secara kompleks permasalahan yang ada di Afrika. Bagaimana sebuah konflik internal di sebuah negara dimanfaatkan oleh orang lain untuk mengambil sumber daya yang ada di negara tersebut. Bagaimana pembunuhan yang dilakukan secara sadis. Dan bagaimana anak kecil menjadi pembunuh yang tidak kenal belas kasihan. Bagaimana kepentingan diri sendiri menjadi hal yang diutamakan. Bahakan teman sendiri pun bisa diperalat. Oleh karena itulah film ini diberi judul “Blood Diamond” dengan mengacu pada proses untuk mendapatkan berlian tersebut melalui pertumpahan darah.
Sabtu, 05 Februari 2011
Al-Qur’an and Muhammad
From this should emerge and Islamic weltanschauung with the utilization of the Qur’an and sunna as sources of knowledge. In this introduction I shall deal with two problems. The first concerns a rational demonstration of the divine origin of the Qur’an, which is necessary as this claim forms the most fundamental aspect of its authority. The authority of Muhammad as an expositor and example par excellence of this message, whose conduct (sunna) is considerate normative for muslims, follows logically from the Qur’anic dicta. Secondly, a framework of hermeneutics of the Qur’an and the sunna needs to be articulated to make the doctrines and the world-view of Islam as coherent as possible because both muslims and non-muslims have followed different methods in trying to understand the two basic sources.
The divine origin of the Qur’an
There is no direct empirical proof that the Qur’an comes directly from God, except from the pages of the Qur’an its self. On the other hand, there is also no proof that the Qur’an was fabricated by Muhammad; the compelling sincerity of the Qur’an rebuts this suggestion. Neither is there any proof that it is not from God; unless it could be proved that God should turn out too be non-existent. The non-existence of God is also an unproven thesis which is as invalid as the idea that there is no life after death. However, it is possible to demonstrate rationally from historical evidence that neither Muhammad nor any other human being composed the Qur’an and then passed it off as divine revelation.
Firstly, the Qur’an its self challenges the doubters at six’ different place concerning its divine origin. The Qur’an invited doubters to find discrepancies in its message and content (4:82) or to produce ten suras (11:13-14) or one like it (2:23-24; 10-38) with the help of all mankind and jinn. Obviously, the Qur’an remain the ultimate achievement in the Arabic language. This inimitability is considered by muslims as a major argument for its divine origin. A.J.Arberry writes:
The challenge was taken up during Muhammad’s lifetime, and the surviving specimens of emulation do nothing to undermine the Koran’s claim to inimitability; neither do the crude parodies put out by later writers, among them eminent authors, who feigned to rival the unique beauty of the muslim scriptures.
The prophet’s opponents, as can be seen from the internal evidence of the Qur’an and from history, could not challenge the eloquence and the spiritual-moral conent of the Qur’an. Early muslim history describes the intrigue of some Meccan elites, led by al-Walid b. al-Mughira, to discredit the Qur’anic message as “sorcery”. This is pointed to in one of the earliest chapters of the Qur’an as follows.
Behold (when our messages are conveyed) he (i.e., al-Walid) reflects and meditates [as to how to disprove them-and thus he destroys him self, and the way he meditates: yea, he destroys himself, the way he meditates-and then he looks (around for new arguments) and then he frowns and glares and in the end he turns his beck (on our message), and glories in his arrogance and says: all this is mere sorcery handed down (from olden times)]. This is nothing but the words of mortal man!
Secondly, the assumption that the Qur’an is muhammad’s own conscious literary production is not sustainable on several grounds. He was known long before his call a trustworthy man al-amin but he was never known to recite or write literary works or poetry. Arberry has also pointed out that, granting the above assumption, it would be very “difficult to find another case in which the literary expression of a man differed so fundamentally from his ordinary speech”. This distinction between the Qur’an and the ordinary wirds of Muhammad has been persistently and effectively maintained by muslims. All Muslims, despite diverse intellectual trends and persuaaions, unanimously uphold the divine status of the Qur’an while they differ significantly on hadith, the ordinary statements of Muhammad. The mutazilites rejected much of the hadith while the Shiites have their own hadith corpus, to the vehement opposition of the sunny majority. Even the prophet himself and his close companions tried to ensure that the Qur’an and the hadith wee not mixed.
Thirdly, the attitude of the Prophet towards the Qur’an should be considered. Muhammad not only revered the verses of the Qur’an by firstly reciting the prayer A uzu bil-Lah min al-shaytan al-rajim (I seek refuge in God from the wredched Satan) and Bismillah al-Rahman al-Rahim (In the name of Allah the most Merciful, Most Beneficent) before any recitation of the Qur’an, but he also tirelessly and constantly recited the verses on all occasions in public and in private. If the Qur’an had been his own creation it is highly unlikely that he would have continued to do this; he would not have needed to read his own verses in the privacy of his own home to seek guidance ang strength. He was know to spend a large portion of the night in prayer reciting the Qur’anic verses and often times weeping profusely – a practice not uncommon among many pious Muslims even today.
Fourthly, the disjointed and multithematic yet consistent and coherent nature of the verses which, from the earliest times, were understood within their specific socio-historical contexts is proof that the Qur’an could not have been authored by a human mind. A writer would strive hard to present an organized and continuous flow of thought, and the result would, in all likelihood—If he/she were to write sporadically in different emotionally charged situations within a span of twenty-three years—be full of contradictions and inconsistencies and not make an intelligible whole. In the other hand, the disjointed and historically discrete nature of the Qur’anic passages provide a permanent source of guidance and reference for the Muslims’ understanding and application.
Even the statement of the Qur’an on natural and scientific topics have been accepted by all Muslims and further vindicated by modern writers, even though many of the points concerning science and the universe have only recently been supported by modern scientific discoveries. Many traditional muslim ulama, such as Ibnu Khaldun and Shah Waliy Allah for example, would accept all the statements of Qur’an including those on natural and medical subjects (such as the benefits of honey), but would reject the efficacy or traditional medicine. Their main argument is that the prophet’s knowledge on these subjects is not based on revelation, but on contemporary experience.
Fifthly, the Qur’anic inclusion of Muhammad’s frailties and humanness do not accord well with the attitude of a person who wished to claim access to divine knowledge or divine inspiration. He would surely not have purposely revealed his human tendencies and frailties to the public if that had been the case. The Qur’an criticizes some of Muhammad’s actions in several places(e.g. 80:1-5) and in others it warn him against corrupting the divine message (e. g. 17:33-75).
Lastly, the Qur’an, despite having verses with numerous overlapping terms and phrases, remains the only book that is easily memorized either partly or totally. Many Muslims who do not even understand the language of the Qur’an itself memorize it entirely by heart. The Qur’an has directly shaped and will continue to shape Muslim history. Muslims will continue to use it for guidance and inspiration. The Qur’an itself has issued a challenge to its detractors to produce a better guide:
Say [O Muhammad]: Produce then [another] revelation from God which would offer a better guidance than these two [i.e. the Torah and the Qur’an]—[and] I shall follow it, if you speak the truth (28:49).
It is thus clear that neither, Muhammad nor any other human being could have produced a work such as the Qur’an. It is divine.
AL-QUR’AN DAN NABI MUHAMMAD
Orang-orang islam menghormati al-Qur’an dan sunnah Muhammad SAW sebagai sumber utama ilmu pengetahuan dan pedoman hidup. Karena itu, buku ini mencoba untuk menguji konsep pengetahuan dalam islam dan pengaruhnya terhadap sistem pendidikan islam, sebuah penjelasan dari sebuah metodologi hermeneutika dari dua sumber yang diperlukan. Dari ini akan muncul dan Weltanschauung Islam dengan memanfaatkan Al-Qur'an dan sunnah sebagai sumber pengetahuan. Dalam pendahuluan ini saya akan menjelaskan dua hal. Pertama menyangkut demonstrasi rasional tentang asal-usul diturunkannya (kesucian) Al Qur'an, yang diperlukan sebagai klaim untuk membentuk aspek otoritasnya yang paling fundamental. kewenangan Muhammad sebagai pemberi penjelasan dan contoh dari fadilah wahyu yang setingkat, yang memiliki perilaku (sunnah) yang penuh perhatian terhadap umat islam, yang mengikuti inti ajaran yang terkandung dalam alqur’an secara logis. Kedua, kerangka hermeneutika al-Qur'an dan sunnah perlu diartikulasikan (dilafalkan dengan jelas) untuk membuat doktrin (ajaran) dan pandangan dunia islam selogis mungkin sebab baik orang islam dan non-orang islam telah mengikuti cara yang berbeda dalam usaha untuk memahami dua sumber dasar yaitu al-qur’an dan sunnah.
Asal-usul diturunkannya (kemurnian) al-Qur’an
Tidak ada bukti empiris (secara ilmiah) yang menyatakan secara langsung bahwa Qur'an murni berasal dari Allah, kecuali dari Al-Qur'an sendiri. Di sisi lain, juga tidak ada bukti bahwa Al-Qur'an itu dibuat oleh muhammad; tidak ada paksaan untuk menerima atau membantah saran (pendapat) ini. Begitu juga tidak ada satu pun bukti yang menyatakan bahwa al-qur’an tidak berasal dari Allah, kecuali kalau dapat dibuktikan bahwa Tuhan juga harus berubah menjadi tidak ada (Tuhan dianggap tidak ada di dunia ini). Ketiadaaan Allah juga merupakan tesis yang belum terbukti yang sama tidak benarnya dengan gagasan bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Namun, ada kemungkinan untuk menunjukkan secara rasional melalui bukti-bukti sejarah bahwa baik Muhammad maupun yang lainnya, yang telah menyusun Alquran dan selanjutnya menganggapnya sebagai wahyu yang murni (dari Tuhan).
Pertama, al-Qur’an sendiri menantang orang yang meragukan asal-usulnya pada enam ayat yang berbeda. Al-Quran mempersilakan bagi orang yang meragukan (kemurnian Al-Qur’an) untuk menemukan ketidaksesuain (pertentangan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, pen) yang terkandung di dalamnya (4:82), atau membuat sepuluh surah (11:13-14) atau bahkan satu saja (2:23-24, 10-38) (Membuat sepuluh surat atau satu surat saja yang sama seperti al-qur’an baik bahasanya maupun yang lainnya, pen) dengan bantuan semua umat manusia dan jin. Tentu saja, Alquran tetap menjadi puncak prestasi dalam bahasa Arab. Al-qur’an tidak dapat ditiru, hal inilah yang menjadi pertimbangan orang islam sebagai argumen utama tentang kemurnian al-qur’an. A.J.Arberry menulis:
Tantangan ini telah ada pada waktu Muhammad masih hidup, dan contoh persaingan yang masih bertahan tidak melakukan apa pun untuk melemahkan pernyataan bahwa Al-quran tidak dapat ditiru, tidak melakukan membuat tiruan yang mengejek dengan kasar yang dikeluarkan oleh penulis kemudian, di antara mereka para penulis terkemuka, yang pura-pura menyaingi keindahan dan keunikan dari kitab suci umat islam.
Musuh-musuh Nabi, sebagaimana dapat dilihat dari bukti internal Alquran dan dari sejarah, tidak bisa menantang kefasihan dan daya spiritual-moral Al-Qur'an. Awal sejarah orang islam menggambarkan intrik (tipu daya) dari beberapa elit Mekah, yang dipimpin oleh al-Walid b. al-Mughira, untuk menyatakan bahwa isi Al-Quran adalah "sihir". Hal ini menunjuk pada salah satu bab paling awal dari Al Qur'an sebagai berikut.
Lihatlah (ketika pesan kita disampaikan) dia (yaitu, al-Walid) mencerminkan dan merencanakan [sebagai cara untuk membuktikan mereka-dan dengan menghancurkan dirinya, dan cara dia bermeditasi: ya, ia menghancurkan dirinya sendiri, caranya bermeditasi -dan kemudian ia melihat (argumen baru) dan kemudian ia mengerutkan dahi dan melotot dan pada akhirnya ia ternyata kembali (pada pesan kami), dan kemuliaan dalam kesombongannya dan berkata: semua ini adalah sihir belaka yang diturunkan (dari zaman dahulu )]. Ini tidak lain hanyalah kata-kata manusia!
Kedua, asumsi bahwa Al Qur'an adalah hasil buatan Muhammad sendiri tidak dapat diterima karena beberapa alasan. Dia telah dikenal jauh sebelum ia mendapat gelar al-amin, bahkan dia tidak pernah dikenal oleh pembaca atau penulis karya sastra atau puisi. Arberry juga menunjukkan bahwa, asumsi di atas, akan sulit untuk menemukan kasus lain di mana ekspresi manusia berbeda sehingga pada dasarnya dari pidato biasanya. Perbedaan antara Qur'an dan kata-kata luar biasa (hadist) dari Muhammad telah berlangsung terus-menerus dan telah dipelihara oleh umat orang islam secara efektif. Semua orang islam, meskipun memiliki tren dan persuasi intelektual yang beragam, mereka sepakat untuk menjunjung status kemurnian Al Qur'an walaupun mereka sangat berbeda dalam hal tentang hadis, kebiasaan Muhammad. Kaum mu’tazilah banyak menolak hadits sementara kaum Syi'ah memiliki kumpulah hadis mereka sendiri, dengan opposisi mayoritas kaum sunni . Bahkan nabi sendiri dan sahabat dekatnya berusaha untuk memastikan bahwa Alquran dan hadis tidak dicampur.
Ketiga, sikap Nabi terhadap Al Qur'an harus dipertimbangkan. Muhammad tidak hanya menghormati ayat-ayat Al Qur'an dengan terlebih dahulu membaca doa A uzu bil-Lah min al-setan al-rajim (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk) dan Bismillah al-Rahman al-Rahim (dengan nama Allah yang maha pangasih, lagi maha penyayang) sebelum membaca Alquran, namun ia juga dengan tanpa lelah dan terus-menerus membacakan ayat-ayat di setiap kesempatan di depan umum dan ketika sendirian. Jika Qur'an memang telah diciptakan olehnya sendiri, sangat tidak mungkin kalau ia akan terus melakukan hal ini, ia tidak perlu membaca ayatnya sendiri, di dalam rumahnya sendiri untuk mencari kekuatan dan bimbingan. Bahkan dia sering menghabiskan sebagian besar malamnya dengan berdoa dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan sering kali menangis-tidak jarang di kalangan umat Islam bahkan banyak yang melakukannya.
Keempat, sifat terputus-putus dan multithematik belum konsisten dan kesinambungan ayat-ayat dari awal, yang dipahami dalam konteks sosio-historis tertentu adalah bukti bahwa Al Qur'an tidak mungkin ditulis oleh pikiran manusia. Seorang penulis akan berusaha keras untuk menyajikan aliran yang terorganisasi dan terus menerus berpikir, dan akan berhasil, dalam semua kemungkinan-Jika dia menulis secara sporadic (asal-asalan) dalam situasi emosional yang berbeda dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun-akan penuh dengan kontradiksi dan inkonsistensi dan tidak membuat seluruhnya dapat dimengerti. Di sisi lain, sifat terputus-putus dan historis diskrit ayat-ayat Al-Qur'an menyediakan sumber permanen atau acuan untuk memahami Orang islam dan penerapannya.
Bahkan pernyataan Qur'an tentang alam dan topik ilmiah telah diterima oleh semua umat Islam dan lebih lanjut dibuktikan oleh penulis modern, meskipun banyak poin tentang ilmu pengetahuan dan alam semesta hanya baru-baru ini didukung oleh penemuan-penemuan ilmiah modern. Banyak ulama orang islam tradisional, seperti Ibnu Khaldun dan Shah Waliy Allah misalnya, menerima semua pernyataan Al-Qur'an termasuk pada mata pelajaran tentang alam dan dunia medis (seperti manfaat madu), tapi akan menolak keberhasilan atau obat tradisional. Argumen utama mereka adalah bahwa pengetahuan nabi di mata pelajaran ini tidak didasarkan pada wahyu, tetapi pada pengalaman kontemporer.
Kelima, pencantuman Al Qur'an tentang kelemahan Muhammad dan kemanusiaan tidak sesuai dengan sikap orang yang ingin mengklaim akses ke kemurnian ilmu pengetahuan atau inspirasi ilahi. Dia pasti tidak sengaja mengungkapkan kecenderungan manusia dan kelemahan kepada masyarakat jika yang telah terjadi. Al-Qur'an mengkritik beberapa tindakan Muhammad di beberapa tempat (misalnya 80:1-5) dan orang lain itu memperingatkan dia melawan merusak pesan ilahi (misalnya 17:33-75).
Terakhir, Alquran, walaupun memiliki ayat-ayat dengan berbagai istilah dan frasa yang tumpang tindih, tetap saja ia merupakan satu-satunya kitab yang mudah diingat baik sebagian atau seluruhnya. Banyak Orang islam yang bahkan tidak memahami bahasa Al Qur'an itu sendiri tetapi mampu menghafalkannya dengan sepenuh hatinyanya. Al-Qur'an telah langsung terbentuk dan akan terus membentuk sejarah Islam. Orang islam akan terus menggunakannya sebagai bimbingan dan inspirasi. Al-Qur'an sendiri telah menantang para pengkritiknya untuk membuat tandingan yang lebih baik:
Katakanlah: "Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan Al Quran) niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar." (28:49).
Dengan demikian jelas bahwa baik Muhammad maupun manusia lainnya tidak bisa menghasilkan suatu karya apa pun seperti Al-Qur'an. Ini adalah bukti kemurnian al-qur’an.
The divine origin of the Qur’an
There is no direct empirical proof that the Qur’an comes directly from God, except from the pages of the Qur’an its self. On the other hand, there is also no proof that the Qur’an was fabricated by Muhammad; the compelling sincerity of the Qur’an rebuts this suggestion. Neither is there any proof that it is not from God; unless it could be proved that God should turn out too be non-existent. The non-existence of God is also an unproven thesis which is as invalid as the idea that there is no life after death. However, it is possible to demonstrate rationally from historical evidence that neither Muhammad nor any other human being composed the Qur’an and then passed it off as divine revelation.
Firstly, the Qur’an its self challenges the doubters at six’ different place concerning its divine origin. The Qur’an invited doubters to find discrepancies in its message and content (4:82) or to produce ten suras (11:13-14) or one like it (2:23-24; 10-38) with the help of all mankind and jinn. Obviously, the Qur’an remain the ultimate achievement in the Arabic language. This inimitability is considered by muslims as a major argument for its divine origin. A.J.Arberry writes:
The challenge was taken up during Muhammad’s lifetime, and the surviving specimens of emulation do nothing to undermine the Koran’s claim to inimitability; neither do the crude parodies put out by later writers, among them eminent authors, who feigned to rival the unique beauty of the muslim scriptures.
The prophet’s opponents, as can be seen from the internal evidence of the Qur’an and from history, could not challenge the eloquence and the spiritual-moral conent of the Qur’an. Early muslim history describes the intrigue of some Meccan elites, led by al-Walid b. al-Mughira, to discredit the Qur’anic message as “sorcery”. This is pointed to in one of the earliest chapters of the Qur’an as follows.
Behold (when our messages are conveyed) he (i.e., al-Walid) reflects and meditates [as to how to disprove them-and thus he destroys him self, and the way he meditates: yea, he destroys himself, the way he meditates-and then he looks (around for new arguments) and then he frowns and glares and in the end he turns his beck (on our message), and glories in his arrogance and says: all this is mere sorcery handed down (from olden times)]. This is nothing but the words of mortal man!
Secondly, the assumption that the Qur’an is muhammad’s own conscious literary production is not sustainable on several grounds. He was known long before his call a trustworthy man al-amin but he was never known to recite or write literary works or poetry. Arberry has also pointed out that, granting the above assumption, it would be very “difficult to find another case in which the literary expression of a man differed so fundamentally from his ordinary speech”. This distinction between the Qur’an and the ordinary wirds of Muhammad has been persistently and effectively maintained by muslims. All Muslims, despite diverse intellectual trends and persuaaions, unanimously uphold the divine status of the Qur’an while they differ significantly on hadith, the ordinary statements of Muhammad. The mutazilites rejected much of the hadith while the Shiites have their own hadith corpus, to the vehement opposition of the sunny majority. Even the prophet himself and his close companions tried to ensure that the Qur’an and the hadith wee not mixed.
Thirdly, the attitude of the Prophet towards the Qur’an should be considered. Muhammad not only revered the verses of the Qur’an by firstly reciting the prayer A uzu bil-Lah min al-shaytan al-rajim (I seek refuge in God from the wredched Satan) and Bismillah al-Rahman al-Rahim (In the name of Allah the most Merciful, Most Beneficent) before any recitation of the Qur’an, but he also tirelessly and constantly recited the verses on all occasions in public and in private. If the Qur’an had been his own creation it is highly unlikely that he would have continued to do this; he would not have needed to read his own verses in the privacy of his own home to seek guidance ang strength. He was know to spend a large portion of the night in prayer reciting the Qur’anic verses and often times weeping profusely – a practice not uncommon among many pious Muslims even today.
Fourthly, the disjointed and multithematic yet consistent and coherent nature of the verses which, from the earliest times, were understood within their specific socio-historical contexts is proof that the Qur’an could not have been authored by a human mind. A writer would strive hard to present an organized and continuous flow of thought, and the result would, in all likelihood—If he/she were to write sporadically in different emotionally charged situations within a span of twenty-three years—be full of contradictions and inconsistencies and not make an intelligible whole. In the other hand, the disjointed and historically discrete nature of the Qur’anic passages provide a permanent source of guidance and reference for the Muslims’ understanding and application.
Even the statement of the Qur’an on natural and scientific topics have been accepted by all Muslims and further vindicated by modern writers, even though many of the points concerning science and the universe have only recently been supported by modern scientific discoveries. Many traditional muslim ulama, such as Ibnu Khaldun and Shah Waliy Allah for example, would accept all the statements of Qur’an including those on natural and medical subjects (such as the benefits of honey), but would reject the efficacy or traditional medicine. Their main argument is that the prophet’s knowledge on these subjects is not based on revelation, but on contemporary experience.
Fifthly, the Qur’anic inclusion of Muhammad’s frailties and humanness do not accord well with the attitude of a person who wished to claim access to divine knowledge or divine inspiration. He would surely not have purposely revealed his human tendencies and frailties to the public if that had been the case. The Qur’an criticizes some of Muhammad’s actions in several places(e.g. 80:1-5) and in others it warn him against corrupting the divine message (e. g. 17:33-75).
Lastly, the Qur’an, despite having verses with numerous overlapping terms and phrases, remains the only book that is easily memorized either partly or totally. Many Muslims who do not even understand the language of the Qur’an itself memorize it entirely by heart. The Qur’an has directly shaped and will continue to shape Muslim history. Muslims will continue to use it for guidance and inspiration. The Qur’an itself has issued a challenge to its detractors to produce a better guide:
Say [O Muhammad]: Produce then [another] revelation from God which would offer a better guidance than these two [i.e. the Torah and the Qur’an]—[and] I shall follow it, if you speak the truth (28:49).
It is thus clear that neither, Muhammad nor any other human being could have produced a work such as the Qur’an. It is divine.
AL-QUR’AN DAN NABI MUHAMMAD
Orang-orang islam menghormati al-Qur’an dan sunnah Muhammad SAW sebagai sumber utama ilmu pengetahuan dan pedoman hidup. Karena itu, buku ini mencoba untuk menguji konsep pengetahuan dalam islam dan pengaruhnya terhadap sistem pendidikan islam, sebuah penjelasan dari sebuah metodologi hermeneutika dari dua sumber yang diperlukan. Dari ini akan muncul dan Weltanschauung Islam dengan memanfaatkan Al-Qur'an dan sunnah sebagai sumber pengetahuan. Dalam pendahuluan ini saya akan menjelaskan dua hal. Pertama menyangkut demonstrasi rasional tentang asal-usul diturunkannya (kesucian) Al Qur'an, yang diperlukan sebagai klaim untuk membentuk aspek otoritasnya yang paling fundamental. kewenangan Muhammad sebagai pemberi penjelasan dan contoh dari fadilah wahyu yang setingkat, yang memiliki perilaku (sunnah) yang penuh perhatian terhadap umat islam, yang mengikuti inti ajaran yang terkandung dalam alqur’an secara logis. Kedua, kerangka hermeneutika al-Qur'an dan sunnah perlu diartikulasikan (dilafalkan dengan jelas) untuk membuat doktrin (ajaran) dan pandangan dunia islam selogis mungkin sebab baik orang islam dan non-orang islam telah mengikuti cara yang berbeda dalam usaha untuk memahami dua sumber dasar yaitu al-qur’an dan sunnah.
Asal-usul diturunkannya (kemurnian) al-Qur’an
Tidak ada bukti empiris (secara ilmiah) yang menyatakan secara langsung bahwa Qur'an murni berasal dari Allah, kecuali dari Al-Qur'an sendiri. Di sisi lain, juga tidak ada bukti bahwa Al-Qur'an itu dibuat oleh muhammad; tidak ada paksaan untuk menerima atau membantah saran (pendapat) ini. Begitu juga tidak ada satu pun bukti yang menyatakan bahwa al-qur’an tidak berasal dari Allah, kecuali kalau dapat dibuktikan bahwa Tuhan juga harus berubah menjadi tidak ada (Tuhan dianggap tidak ada di dunia ini). Ketiadaaan Allah juga merupakan tesis yang belum terbukti yang sama tidak benarnya dengan gagasan bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Namun, ada kemungkinan untuk menunjukkan secara rasional melalui bukti-bukti sejarah bahwa baik Muhammad maupun yang lainnya, yang telah menyusun Alquran dan selanjutnya menganggapnya sebagai wahyu yang murni (dari Tuhan).
Pertama, al-Qur’an sendiri menantang orang yang meragukan asal-usulnya pada enam ayat yang berbeda. Al-Quran mempersilakan bagi orang yang meragukan (kemurnian Al-Qur’an) untuk menemukan ketidaksesuain (pertentangan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, pen) yang terkandung di dalamnya (4:82), atau membuat sepuluh surah (11:13-14) atau bahkan satu saja (2:23-24, 10-38) (Membuat sepuluh surat atau satu surat saja yang sama seperti al-qur’an baik bahasanya maupun yang lainnya, pen) dengan bantuan semua umat manusia dan jin. Tentu saja, Alquran tetap menjadi puncak prestasi dalam bahasa Arab. Al-qur’an tidak dapat ditiru, hal inilah yang menjadi pertimbangan orang islam sebagai argumen utama tentang kemurnian al-qur’an. A.J.Arberry menulis:
Tantangan ini telah ada pada waktu Muhammad masih hidup, dan contoh persaingan yang masih bertahan tidak melakukan apa pun untuk melemahkan pernyataan bahwa Al-quran tidak dapat ditiru, tidak melakukan membuat tiruan yang mengejek dengan kasar yang dikeluarkan oleh penulis kemudian, di antara mereka para penulis terkemuka, yang pura-pura menyaingi keindahan dan keunikan dari kitab suci umat islam.
Musuh-musuh Nabi, sebagaimana dapat dilihat dari bukti internal Alquran dan dari sejarah, tidak bisa menantang kefasihan dan daya spiritual-moral Al-Qur'an. Awal sejarah orang islam menggambarkan intrik (tipu daya) dari beberapa elit Mekah, yang dipimpin oleh al-Walid b. al-Mughira, untuk menyatakan bahwa isi Al-Quran adalah "sihir". Hal ini menunjuk pada salah satu bab paling awal dari Al Qur'an sebagai berikut.
Lihatlah (ketika pesan kita disampaikan) dia (yaitu, al-Walid) mencerminkan dan merencanakan [sebagai cara untuk membuktikan mereka-dan dengan menghancurkan dirinya, dan cara dia bermeditasi: ya, ia menghancurkan dirinya sendiri, caranya bermeditasi -dan kemudian ia melihat (argumen baru) dan kemudian ia mengerutkan dahi dan melotot dan pada akhirnya ia ternyata kembali (pada pesan kami), dan kemuliaan dalam kesombongannya dan berkata: semua ini adalah sihir belaka yang diturunkan (dari zaman dahulu )]. Ini tidak lain hanyalah kata-kata manusia!
Kedua, asumsi bahwa Al Qur'an adalah hasil buatan Muhammad sendiri tidak dapat diterima karena beberapa alasan. Dia telah dikenal jauh sebelum ia mendapat gelar al-amin, bahkan dia tidak pernah dikenal oleh pembaca atau penulis karya sastra atau puisi. Arberry juga menunjukkan bahwa, asumsi di atas, akan sulit untuk menemukan kasus lain di mana ekspresi manusia berbeda sehingga pada dasarnya dari pidato biasanya. Perbedaan antara Qur'an dan kata-kata luar biasa (hadist) dari Muhammad telah berlangsung terus-menerus dan telah dipelihara oleh umat orang islam secara efektif. Semua orang islam, meskipun memiliki tren dan persuasi intelektual yang beragam, mereka sepakat untuk menjunjung status kemurnian Al Qur'an walaupun mereka sangat berbeda dalam hal tentang hadis, kebiasaan Muhammad. Kaum mu’tazilah banyak menolak hadits sementara kaum Syi'ah memiliki kumpulah hadis mereka sendiri, dengan opposisi mayoritas kaum sunni . Bahkan nabi sendiri dan sahabat dekatnya berusaha untuk memastikan bahwa Alquran dan hadis tidak dicampur.
Ketiga, sikap Nabi terhadap Al Qur'an harus dipertimbangkan. Muhammad tidak hanya menghormati ayat-ayat Al Qur'an dengan terlebih dahulu membaca doa A uzu bil-Lah min al-setan al-rajim (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk) dan Bismillah al-Rahman al-Rahim (dengan nama Allah yang maha pangasih, lagi maha penyayang) sebelum membaca Alquran, namun ia juga dengan tanpa lelah dan terus-menerus membacakan ayat-ayat di setiap kesempatan di depan umum dan ketika sendirian. Jika Qur'an memang telah diciptakan olehnya sendiri, sangat tidak mungkin kalau ia akan terus melakukan hal ini, ia tidak perlu membaca ayatnya sendiri, di dalam rumahnya sendiri untuk mencari kekuatan dan bimbingan. Bahkan dia sering menghabiskan sebagian besar malamnya dengan berdoa dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan sering kali menangis-tidak jarang di kalangan umat Islam bahkan banyak yang melakukannya.
Keempat, sifat terputus-putus dan multithematik belum konsisten dan kesinambungan ayat-ayat dari awal, yang dipahami dalam konteks sosio-historis tertentu adalah bukti bahwa Al Qur'an tidak mungkin ditulis oleh pikiran manusia. Seorang penulis akan berusaha keras untuk menyajikan aliran yang terorganisasi dan terus menerus berpikir, dan akan berhasil, dalam semua kemungkinan-Jika dia menulis secara sporadic (asal-asalan) dalam situasi emosional yang berbeda dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun-akan penuh dengan kontradiksi dan inkonsistensi dan tidak membuat seluruhnya dapat dimengerti. Di sisi lain, sifat terputus-putus dan historis diskrit ayat-ayat Al-Qur'an menyediakan sumber permanen atau acuan untuk memahami Orang islam dan penerapannya.
Bahkan pernyataan Qur'an tentang alam dan topik ilmiah telah diterima oleh semua umat Islam dan lebih lanjut dibuktikan oleh penulis modern, meskipun banyak poin tentang ilmu pengetahuan dan alam semesta hanya baru-baru ini didukung oleh penemuan-penemuan ilmiah modern. Banyak ulama orang islam tradisional, seperti Ibnu Khaldun dan Shah Waliy Allah misalnya, menerima semua pernyataan Al-Qur'an termasuk pada mata pelajaran tentang alam dan dunia medis (seperti manfaat madu), tapi akan menolak keberhasilan atau obat tradisional. Argumen utama mereka adalah bahwa pengetahuan nabi di mata pelajaran ini tidak didasarkan pada wahyu, tetapi pada pengalaman kontemporer.
Kelima, pencantuman Al Qur'an tentang kelemahan Muhammad dan kemanusiaan tidak sesuai dengan sikap orang yang ingin mengklaim akses ke kemurnian ilmu pengetahuan atau inspirasi ilahi. Dia pasti tidak sengaja mengungkapkan kecenderungan manusia dan kelemahan kepada masyarakat jika yang telah terjadi. Al-Qur'an mengkritik beberapa tindakan Muhammad di beberapa tempat (misalnya 80:1-5) dan orang lain itu memperingatkan dia melawan merusak pesan ilahi (misalnya 17:33-75).
Terakhir, Alquran, walaupun memiliki ayat-ayat dengan berbagai istilah dan frasa yang tumpang tindih, tetap saja ia merupakan satu-satunya kitab yang mudah diingat baik sebagian atau seluruhnya. Banyak Orang islam yang bahkan tidak memahami bahasa Al Qur'an itu sendiri tetapi mampu menghafalkannya dengan sepenuh hatinyanya. Al-Qur'an telah langsung terbentuk dan akan terus membentuk sejarah Islam. Orang islam akan terus menggunakannya sebagai bimbingan dan inspirasi. Al-Qur'an sendiri telah menantang para pengkritiknya untuk membuat tandingan yang lebih baik:
Katakanlah: "Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan Al Quran) niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar." (28:49).
Dengan demikian jelas bahwa baik Muhammad maupun manusia lainnya tidak bisa menghasilkan suatu karya apa pun seperti Al-Qur'an. Ini adalah bukti kemurnian al-qur’an.
Langganan:
Komentar (Atom)